Produksi Nikel Indonesia Tembus 93 Juta Ton hingga April 2026, Pasokan Industri EV Tetap Kuat

By Admin


Ilustrasi Tambang
nusakini.com, Produksi bijih nikel Indonesia sepanjang Januari hingga April 2026 mencapai 93,11 juta ton. Angka tersebut menjadi indikator kuat bahwa aktivitas industri tambang nikel domestik tetap berjalan aktif meski pasar komoditas global masih menghadapi berbagai tantangan.

Berdasarkan data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), selain produksi bijih nikel, industri pengolahan juga mencatat capaian signifikan. Produksi feronikel selama empat bulan pertama tahun ini mencapai 198.970 ton, sedangkan nikel matte tercatat sebesar 23.730 ton.

Capaian tersebut menunjukkan keberlanjutan pengembangan hilirisasi mineral yang selama beberapa tahun terakhir menjadi salah satu fokus kebijakan pemerintah.

Permintaan global terhadap bahan baku baterai kendaraan listrik masih menjadi faktor penting yang menopang aktivitas industri nikel nasional. Indonesia saat ini menjadi salah satu negara dengan cadangan dan produksi nikel terbesar di dunia sehingga memiliki posisi strategis dalam rantai pasok energi bersih.

Tidak hanya nikel, sektor pertambangan logam lainnya juga mencatat produksi yang cukup besar. Produksi konsentrat tembaga hingga April 2026 mencapai 422.510 ton, sementara produksi katoda tembaga mencapai 83.280 ton.

Di sisi lain, produksi bauksit nasional tercatat sebesar 8,01 juta ton selama periode yang sama. Kinerja tersebut menunjukkan aktivitas industri mineral logam masih menjadi salah satu penggerak utama sektor pertambangan nasional.

Pengamat industri menilai stabilnya produksi mineral dapat menjadi modal penting bagi Indonesia untuk memperkuat daya saing industri hilir sekaligus meningkatkan nilai tambah komoditas tambang di dalam negeri.

Dengan capaian produksi yang tetap tinggi pada awal tahun, sektor nikel dan mineral logam diperkirakan masih akan menjadi salah satu penopang utama pertumbuhan industri pertambangan Indonesia sepanjang 2026. (*)